Mencari yang Hilang dari Dunia Pendidikan dan Kita

Oleh: Pandu Utama Manggala[1]

Biarkan dunia merubahmu,

Maka engkau akan mampu merubah dunia!”

-Ernesto “Che” Guevara

Dalam Motorcycle Diaries

Tulisan ini bukanlah tulisan yang akan membuat penat kepala kita dengan beragam masalah yang ada di dunia pendidikan Indonesia. Tenang saja, tulisan ini sekedar upaya berbagi, supaya kita semua tidak kehilangan salah satu kemampuan distingtif kita sebagai manusia: refleksi. Ya benar, refleksi lebih dalam untuk menyelami realitas dunia, sebagai prasyarat untuk lahirnya sesuatu yang berarti, sebagaimana yang diungkapkan Che diatas.

Pertanyaan kritis kemudian pantas diajukan ke dalam diri kita, “Benarkah kita, mahasiswa telah memahami realitas dunia? Atau setidaknya realitas yang ada di sekitar kita?” Kita memang belajar tentang “realitas” melalui berita dan berbagai dokumen. Tetapi, mari berpikir ulang: benarkah itu “realitas”? Untuk memahami realitas itu pun, kita hanya fasih mengeja nama-nama yang tidak pernah lahir di sekitar kita (Misal Karl Marx, Michael Foucault, Derrida, dll –patut dicatat juga kalau hal ini bukan berarti saya xenophobia ya)

Baiklah, mari berdiskusi lebih tajam lagi. Kita sebagai mahasiswa (atau lebih tepatnya aktivis pergerakan mahasiswa??) sering mengutuk sistem ekonomi politik dunia yang tidak adil saat ini dan turut meratapi nasib negeri kita yang malang ini. Kita juga sering merayakan kemiskinan dengan cara mengutip data-data memprihatinkan itu dalam tumpukan kertas yang kita kumpulkan dalam beragam tugas dan ujian. Setelah itu, apa yang terjadi? Sering kali kemiskinan yang kita kutip tersebut pun hilang dari kepala kita. Selesai.

Seorang filsuf pendidikan, Paulo Freire, menyatakan bahwa pendidikan harus melibatkan tiga unsur: guru, murid (dalam relasi yang setara) dan “realitas dunia”. Tanpa itu, pendidikan hanya menghasilkan orang-orang yang diproduksi oleh pendidikan sebagai pengidola dirinya sendiri: belajarlah yang benar untuk karirmu di masa yang akan datang.

Maka, saksikanlah bahwa ramai mahasiswa berkuliah untuk bekerja. Berkuliah untuk mengasingkan dirinya sendiri di menara gading bernama universitas, institut, atau akademi. Setelahnya, seperti kata Romo Magniz: “mereka menjadi penjajah bangsanya sendiri!” Untuk itulah, dalam menyingkapi bagaimana mahasiswa harus menjalankan peran sosialnya, terlebih dahulu harus dicari yang hilang dalam dunia pendidikan kita, yaitu; kemampuan untuk melihat “realitas dunia” yang ada di sekitar kita, dan untuk meraih hal tersebut kita pun terlebih dahulu harus dapat memahami nilai dasar dari pendidikan itu sendiri.

Realitas Dunia Pendidikan Kita dan Nilai Dasarnya

Pendidikan sebagaimana yang diketahui merupakan suatu jembatan untuk dapat menghasilkan sumber-sumber daya manusia suatu negara yang berkualitas, yang dapat mengangkat derajat negara tersebut. Pendidikan juga diperlukan untuk mengembangkan potensi peserta didik dalam berbagai dimensi kemanusiaannya karena esensi dari pendidikan itu sendiri adalah suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas kemanusiaan yang membudaya.

Departemen Pendidikan Nasional sebagai suatu departemen pemerintahan yang mengurusi bidang pendidikan di Indonesia seharusnya bisa memainkan perannya sebagaimana yang diungkapkan di atas, dengan menjadikan pendidikan di Indonesia sebagai sarana untuk mengembangkan SDM-SDM di Indonesia dari dimensi kemanusiaannya dan menjadikan pendidikan itu sebagai suatu proses untuk dapat menghasilkan SDM Indonesia yang berkualitas. Namun yang terlihat dalam pelaksanaannya, pendidikan sebagai suatu proses diabaikan dan hanya bertumpu pada pola pendidikan yang lebih menekankan sebagai capaian akademis semata. Sehingga hal itu menimbulkan suatu tradisi kurang berpikir dari masyarakat Indonesia dimana bangsa ini lebih suka untuk mendapatkan jawaban daripada pertanyaan. Padahal sebenarnya menurut Jacques Rolland, seorang filsuf, bertanya merupakan latihan dari berpikir yang dapat membuat suatu bangsa maju. Kita saksikan di Indonesia, ramai-ramai siswa mendatangi bimbingan-bimbingan belajar dan membeli buku kumpulan soal dan jawaban semasa persiapan ujian nasional ataupun SPMB. Bangsa ini kemudian menganggap kebenaran dan jalan kebenaran hanya satu, tidak dipersoalkan lagi.

Lebih lanjut, sebagai sarana pembangunan sumber daya manusia yang utama, pendidikan memiliki posisi yang sangat penting terhadap kehidupan di masyarakat. Tak bisa dipungkiri, pembangunan pendidikan menjadi sebuah hal yang sangat penting dalam rangka meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia. Berbagai cara dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dalam sebuah sekolah, mulai dari merubah kurikulum, mendapatkan pengajar-pengajar yang kompeten, dan mencari investor-investor dalam rangka membantu sekolah secara finansial.

Hal-hal semacam itu menjadi pro dan kontra tersendiri dalam sistem pendidikan di negara Indonesia. Dalam batang tubuh UUD 1945 pasal 31 disebutkan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran”. Hal tersebut berarti Pemerintah harus bertanggung jawab atas penyelenggaraan pendidikan terhadap masyarakat Indonesia.

Permasalahan yang kemudian muncul adalah tidak sinkronnya antarprogram pendidikan nasional dimana hal ini berakibat menambah beban masyarakat. Munculnya RUU Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP) akan menjadikan sektor pendidikan di-privatisasi, dan ini tentunya akan semakin memperlemah peran negara di dalam menghasilkan kualitas SDM yang baik. Berangkat dari pernyataan Foucault akan “Knowledge-Power Relations” dimana pengetahuan yang lebih akan sesuatu akan mendatangkan kuasa bagi yang memilikinya, seharusnya pemerintah dalam hal ini Depdiknas harus dapat melihat hal tersebut dan kemudian membangun suatu sarana pendidikan yang memadai bagi rakyat Indonesia, terutama dengan menguatkan civic education demi menancapkan nilai-nilai keindonesiaan. Ya, inilah yang mesti kita kuatkan terlebih dahulu untuk membangun kembali dunia pendidikan Indonesia, “pencarian terhadap realitas dunia dan penanaman nilai dasar keindonesiaan!”

Lalu, selanjutnya bagaimana?

Yah, tentu langkah awalnya kembali kepada diri kita sendiri. Tanyakan ke dalam diri kalian beberapa pertanyaan ini; Untuk apa kita belajar di kuliah? ( bisa dijawab dengan logika apapun yang kita gunakan, logic of consequences atau logic of appropriateness atau bahkan bukan logika sekalipun), apa yang menjadi ruh, yang menjiwai apa yang kita lakukan? Terakhir, apa yang akan kita lakukan?

Tentu saja, realitas pun punya beragam versi narasi. Maka jawaban kita pun tak salah jika berwarna-warni.


[1] Penulis adalah mahasiswa ilmu hubungan internasional UI angkatan 2005 dengan konsentrasi isu ekonomi politik internasional dan studi kebijakan luar negeri. Saat ini mengemban amanah sebagai Ketua Umum BEM FISIP UI 2008, Direktur Hubungan Internasional SYNDROME (Syndicate for Indonesia Transformation), dan penggiat Komunitas Alternatif FISIP UI. Bisa dikontak di 0818108297 atau email ke p4ndu_2@yahoo.com.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: